JIHAD MEMBELA TANAH AIR DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
Kita semua
tentu punya rumah. Tempat kita singgah dalam waktu yang lama. Tempat bernaung
dan memperoleh keamanan dan kenyamanan. Di rumah kita menikmati adanya privasi,
kedaulatan misalnya beribadah secara khusyuk, belajar dengan fokus, dan
sejenisnya. Rumah adalah kebutuhan pokok sekaligus hak seseorang yang tak boleh
dirampas. Siapa pun tidak berhak mencuri harta benda atau mengganggu rumah
kita. Islam menjamin hak-hak ini sehingga si pemilik boleh membela diri.
Seorang pencuri dalam Islam juga tak lepas dari sebuah sanksi.
Lebih luas dari
rumah, kita menyebutnya rukun tetangga atau RT. Lebih luas lagi, ada rukun
warga atau RW, kemudian Kampung, Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, hingga
Negara. Dalam bahasa Arab, untuk menyebut istilah-istilah tersebut dikenal
kata "dâr" yang biasa diartikan Rumah, tempat
tinggal, Negeri, atau sejenisnya. Kata lain yang juga digunakan adalah "Wathan" yang
berarti tanah air, tanah kelahiran, atau Negeri.
Tempat tinggal
merupakan keperluan alamiah Seluruh manusia, bahkan juga binatang meniscayakan
kebutuhan yang satu ini. Tapi mencintainya adalah bagian dari mencintai
kebutuhan primer manusiawi yang memang sangat dijunjung tinggi syariat.
Baginda
Rosulullah ﷺ sendiri pernah
mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran beliau, Makkah. Hal ini bisa
kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas radliyallahu ‘anh yang
di riwayatkan dari Ibnu Hibban:
“Dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anh ia
berkata, Rasulullah ﷺersabda,
‘Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan
negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau,
niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu” (HR Ibnu Hibban).
Setelah
pengusiran tersebut, Nabi ﷺ lantas hijrah ke
kota Yatsrib yang di kemudian hari bernama Madinah. Di tempat tinggal yang baru
ini, Rasulullah ﷺ pun berharap
besar bisa mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah.
Seperti yang
terungkap dalam doa beliau yang terekam dalam Shahih Bukhari.
“Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah,
atau melebihi cinta kami pada Makkah.” (HR al-Bukhari 7/161)
Mencintai tanah
air adalah sebuah hal wajar, bahkan sangat dianjurkan. Al-Jurjani
pernah menyebut istilah al-wathan al-ashli, yaitu tempat kelahiran
seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.
“Al-wathan al-ashli adalah tempat kelahiran
seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya,” (dapat di lihat biografi Ali bin Muhammad bin
Ali Al-Jurjani, At-Ta`rifat, Dalam Kitab Al-‘Arabi, cet
ke-1, 1405 H, halaman 327).
Salah satu
tokoh pendiri Nahdlatul Ulama Almagfurlah KH. Wahab Chasbullah tambak beras
jombang pernah menyebutkan; “HUBBUL WATHON MINAL IMAN” “Cinta
Tanah air adalah sebagian dari Iman”. Almagfurlah KH. Abdullah Abbas
Butet Cirebon, menyebutkan “Cinta Indonesia adalah sebagian ibadah”.
Lalu apa
manfaat dari cinta tanah air? Apa beda cinta tanah air dengan cinta kita
terhadap jenis makanan tertentu atau cinta kita terhadap tayangan televisi
tertentu? Kita mafhum bahwa kata cinta bermakna lebih dari sekadar kesukaan
atau kegemaran. Cinta mengandung asosiasi mengasihi, merawat, mengembangkan,
juga melindungi. Ketika Rasulullah ﷺ mencintai
negeri Makkah, beliau menjadi orang yang sangat peduli terhadap penindasan dan
bejatnya moral masyarakat musyrik kala itu. Saat beliau mencintai Madinah,
beliau juga membangun masyarakat beradab dengan sistem hukum yang adil untuk
masyarakat yang majemuk di Madinah.
Sekarang ini
banyak sekelompok orang ingin menghancurkan Negara Kesatuan Republik indonesia
tercinta, dengan dalih kembali kepada Sunnah Rasulullah ﷺ , namun dibalik semua itu mereka sebenarnya ingin
menghancurkan Nagara Republik Indonesia, Negara yang sudah dibangun dengan
banyak nyawa para Pahlawan yang rela mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan
Negara Indonesia ini, lantas apakah kita sebagai manusia yang berjiwa
Nasionalisme akan berdiam diri? tentu saja tidak, kita pertahankan ideologi
pancasila kita dengan penuh rasa tanggung jawab yang kuat, keimanan yang kokoh
agar kecintaan kita terhadap Negara ini tidak mudah untuk digoyahkan.
Untuk itu itu
mari kita didik generasi muda kita untuk lebih mencintai tanah air tercinta ini
dengan semangat untuk saling menghargai sesama manusia, saling menolong, dan
saling melindungi. Karena tanah air adalah tempat kita lahir, sumber makanan,
tempat beribadah, dan mungkin sekali juga tempat peristirahatan terakhir bagi
kita.
Mudah-mudahan
Allahﷻ menjadikan negeri kita dalam
limpahan keberkahan, aman, damai, dan sejahtera. Warga di dalamnya di anugerahi
petunjuk sehingga mampu bersatu dan bersama-sama membangun kemaslahatan untuk semua.
Wa Allahu a'lam Bisshawaf.
0 Komentar
Tulis Komentar Anda dengan sopan dan No Link Spam!