BAB II : Gaya Komunikasi Kepemimpinan Kepala Desa dalam Meningkatkan Kualitas Keberagamaan Masyarakat
Berdasarkan
latar belakang dari artikel sebelumnya pada bab 1, maka dapat diambil rumusan masalahnya sebagai berikut:
Bagaimana gaya komunikasi kepala Desa Ujungpendok Jaya
Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu?
Apa saja langkah-langkah yang dilakukan Kepala Desa Ujungpendok
Jaya dalam meningkatkan keberagamaanmasyarakat?
Apa faktor pendukung dan penghambat kepala desa dalam
meningkatkan keberagamaan masyarakat di Desa Ujungpendok Jaya Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu?
Lantas apa saja yang menjadi tujuan penelitian pada artikel ini?
Berikut penulis ungkapkan beberapa tujuannya sebagai berikut :
Untuk mengetahui gaya komunikasi kepala Desa
Ujungpendok Jaya Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu.
Untuk mengetahui langkah-langkah Kepala Desa
Ujungpendok Jaya dalam meningkatkan keberagamaanmasyarakat.
Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat yang
dihadapi kepala desa dalam meningkatkan kebergamaan masyarakat di Desa Ujungpendok Jaya Kecamatan Widasari Kabupaten
Indramayu.
Sebuah penelitian
selain mempunyai tujuan penelitian juga diharapkan memberikan manfaat sebagai
berikut.
1.Manfaat Teoritis
Sebagai bahan
refrensi masukan gambaran untuk kepala desa dalam pemilihan gaya komunikasi
kepemimpinan yang baik untuk meningkatkan keberagamaanmasyarakat.
Sebagai bahan
pembelajaran dan pengetahuan untuk peneliti akan pentingnya sebuah gaya
komunikasi kepemimpinan seorang kepaladesa dalam upaya meningkatkan kualitas keberagamaanmasyarakat.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini
diharapkan mampu memberikan kontribusi sebagai bahan rujukan atau referensi
bagi mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.
3. Manfaat Sosial
Penelitian ini
diharapkan dapat menjadi bahan pengetahuan bagi kepala desa dalam penggunaan
komunikasi yang begitu penting dalam menjalankan tugas. Kepala desa sangat
penting membutuhkan gaya komunikasi serta peranan yang baik agar tim dapat
bekerja dengan baik dan masyarakat mau berpartisipasi dan antusias untuk
sama-sama mensukseskan program kerja dari pemerintah desa untuk sama-sama
memajukan desa.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelasdan
untuk memudahkan dalam memahami judul pada tulisan ini maka penulis memberi batasan
istilah sebagai berikut:
Gaya komunikasi (communication style) adalah sebagai seperangkat prilaku antar
pribadi yang terspesialisasi digunakan dalam suatu situasi tertentu. Gaya
komunikasi merupakan cara penyampaian dan gaya bahasa yang baik. Gaya yang
dimaksud sendiri dapat bertipe verbal yang berupa kata-kata atau nonverbal
berupa vokalik, bahasa badan, penggunaan waktu, penggunaan ruang dan jarak
(Fajri, 2016:14).
Kepemimpinan merupakan suatu usaha dari
seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan individu ataupun tujuan
organisasi. Oleh karena itu, pemimpin diharapkan dapat mempengaruhi, mendukung
dan memberikan motivasi agar para pengikutnya tersebut mau melaksanakannya
secara antusias dalam mencapai tujuan yang diinginkan baik secara individu
maupun organisasi (Wijono, 2018:4).
Keberagamaan masyarakat adalah tingkat
konsepsi seorang terhadap agama dan tingkat komitmen seseorang terhadap
agamanya. Tingkat konseptualisasi adalah tingkat pengetahuan seseorang terhadap
agamanya sedangkan yang dimaksud tingat komitmen adalah suatu hal yang perlu
dipahami secara menyeluruh sehingga dapat berbagai cara individu untuk menjadi
religius (Yunita, 2012:312).
Sementara itu, berdasarkan hasil bacaan penulis,
ditemukan beberapa sumber karya ilmiah yang membahas tentang gaya komunikasi kepemimpinan
Kepala Desa. Uraian singkat tentang karya ilmiah yang relevan dengan yang
penulis teliti:
Penelitian Mahfudloh Fajri tahun 2017 tentang
Gaya Komunikasi Masyarakat Pesisir Wedung Jawa Tengah. Disimpulkan bahwa gaya
komunikasi masyarakat pesisir dalam berkomunikasi dengan sesama masyarakat pesisir,
masyarakat luar wilayah kecamatan wedung dan turis adalah (the equalitarian
style). Gaya komunikasi yang bersifat dua arah dan dilakukan secara
terbuka. Artinya masyarakat pesisir kecamatan wedung dalam berkomunikasi lebih
suka dan cenderung dua arah sehingga respon baik dari komunikator dan
komunikan. Pada dasarnya masyarakat pesisir kecamatan wedung mempunyai sifat
terbuka dalam berkomunikasi, namun hal ini jika ditunjang dengan kondisi dan
situasi yang baik, rileks, santai dan informal. Persamaan penelitian ini dengan
yang dilakukan peneliti adalah sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif
dengan metode deskriptif kualitatif.
Perbedaan penelitian Mahfudloh dengan
penelitian ini terletak pada obyek penelitian jika penelitian mahfudloh
meneliti gaya komunikasi masyarakat peneliti kali ini membahas aspek Gaya
Komunikasi Kepemimpinan yang dipakai kepala desa dalam meningkatkan kualitas
keberagamaan masyarakat.
Penelitian Ella Damayanti tahun 2018 tentang
analisis terhadap Gaya Komunikasi Kepala Desa Jempating Kecamatan Long Ikis
Kabupaten Paser. Disimpulkan bahwa gaya komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin
masih kurang cocok untuk diterapkan di desa, Karena lebih mengacu pada gaya
komunikasi mengendalikan (the controlling style) sehingga penerapan gaya
komunikasi satu arah tersebut menimbulkan kesan membatasi dan mengendalikan
orang lain. Peran yang dimainkan melalui gaya komunikasi antara panggung depan (front
stage) dan panggung belakang (back stage) sama, sehingga menimbulkan
masalah antara kepala desa dan masyarakat. Menurut teori Dramaturgi
pemimpin belum mampu memainkan perannya sebagai komunikator, sebab belum sesuai
dengan kondisi yang dibutuhkan. Sebagai seorang komunikator mestinya pandai
menempatkan diri dan menyesuaikan dengan kebutuhan. Agar komunikasi selalu
terjaga dengan baik diharapakan pemimpin menggunakan gaya komunikasi
berlandaskan kesamaan (The equalitarian style), sebab gaya komunikasi
ini lebih efektif dalam membina empati dan kerjasama dan memiliki rasa
kepedulian sehingga mampu membina hubungan baik dengan pihak manapun.
Penelitian ini memiliki sedikit perbedaan
dengan penulis, yaitu terletak pada studi kasus dan obyek hubungan antara gaya
komunikasi kepala desa dengan meningkatkan keberagamaan masyarakat.
Penelitian Imron Khusaini tahun 2017 yang
berjudul Upaya Meningkatkan Kualitas Keberagamaan Masyarakat Nelayan Desa
Betahwalang Kecamatan Bonang Kabupaten Demak oleh ustadz Abu Shokib “Studi
kasus pecandu miras”. Disimpulkan bahwa penelitian Khusaeni membahas tentang
cara Ustadz Abu Shokib dalam rangka meningkatkan keberagamaan masyarakat
Nelayan Desa Betahwalang Kecamatan Bonang Kabupaten Demak di Asrama Ath-Thaifin
dan faktor yang mempengaruhinya dengan menggunakan studi kasus pada pecandu
miras. Perbedaan penelitian Khussaeni dengan penelitian ini terletak pada
obyeknya.
Penelitian-penelitian diatas memiliki kesamaan
dengan yang peneliti lakukan, yakni meneliti gaya komunikasi serta kesamaan
pada jenis penelitian yaitu kualitatif. Peneliti sebelumnya belum ada yang
secara khususmembahas tentang gaya
komunikasi pemimpin kepala desa dalam upaya meningkatkan kualitas keberagamaan
masyarakat.
0 Komentar
Tulis Komentar Anda dengan sopan dan No Link Spam!