Balang Jumrah : Bag. 3 Nongkrong di Warung Waktu Bersama Kang Pendi
Balang Jumrah (jawa red)
atau melempar jumrah adalah salah satu rangkaian wajib dalam ibadah haji yang
dilakukan di Mina dengan cara melempar batu kecil ke tiga titik jumrah:
Jumrah Ula (الصغرى / al-ṣughrā)
Jumrah Wustha (الوسطى / al-wusṭā)
Jumrah Aqabah (العقبة / al-‘Aqabah)
Secara bahasa, “jumrah” (جمرة) berarti kumpulan batu kecil atau bara
api. Dalam istilah manasik, jumrah adalah tempat pelemparan batu sebagai simbol
perlawanan terhadap godaan setan.
A. Sejarah
Awal Balang Jumrah
1. Peristiwa Nabi Ibrahim AS
Sejarah jumrah berakar dari
kisah Nabi Ibrahim AS ketika menerima perintah Allah untuk menyembelih
putranya, Nabi Ismail AS.Allah berfirman:
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ
عَظِيمٍ
Wa fadaināhu bi
dzibḥin ‘aẓīm
Artinya : “Dan
Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat:
107)
Menurut riwayat dalam kitab-kitab
tafsir klasik seperti, Tafsir al-Tabari, Tafsir Ibn Kathir, Al-Bidayah wa
al-Nihayah, diceritakan bahwa ketika Nabi Ibrahim menuju tempat penyembelihan
Ismail di Mina, setan datang menggoda beliau sebanyak tiga kali untuk
menggagalkan perintah Allah.
2. Lokasi
Godaan Setan
Godaan
pertama di lokasi Jumrah Ula, Godaan kedua di lokasi Jumrah Wustha, Godaan
ketiga di lokasi Jumrah Aqabah. Atas petunjuk Malaikat Jibril AS, Nabi Ibrahim
melempar setan dengan tujuh batu kecil pada setiap tempat tersebut. Jibril
berkata: “Irmihi” (Lemparlah dia). Riwayat ini disebutkan dalam Akhbar
Makkah, Al-Mughni, Fath al-Bari.
3. Tahun
dan Kronologi Sejarah
Sekitar 2000 SM di Era Nabi
Ibrahim AS dan di sebutkan oleh para ahli sejarah Islam memperkirakan Nabi
Ibrahim hidup sekitar 2000–1800 SM. Pada masa inilah awal simbolisasi lempar
jumrah terjadi di wilayah Mina. Mina sendiri telah dikenal sebagai tempat
manasik sejak era Ibrahim AS.
4. Balang
Jumrah pada Masa Arab Jahiliyah
Sebelum
Islam datang, bangsa Arab Quraisy tetap mengenal ritual haji warisan Ibrahim,
termasuk tawaf, sa’i, wukuf, penyembelihan kurban dan lempar jumrah, namun
praktiknya bercampur dengan kemusyrikan.
Menurut
Sirah Ibn Hisham Tarikh al-Tabari, orang Arab jahiliyah tetap melakukan lempar
jumrah sebagai tradisi Ibrahim, meskipun makna tauhidnya banyak hilang.
Dan kemudian Ritual lempar
jumrah tersebut di sempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW pada sekitar tahun 10 Hijriah
/ 632 M saat baginda nabi melaksanakan Haji Wada’. Dalam Hadis riwayat Sahih
Muslim di sebutkan:
Artinya : “Rasulullah
melempar jumrah dengan tujuh batu kecil.”
5. Tata Cara Nabi SAW Melempar
Jumrah
Pada tanggal 10 Dzulhijjah
Rasulullah SAW melempar Jumrah Aqabah saja sebanyak 7 batu, kemudian pada hari
Tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah) Rasulullah SAW melempar tiga jumrah (Ula, Wustha,
Aqabah) masing-masing 7 batu kecil disertai takbir yang diucapkan setiap
lemparan. Hal demikian tertulis dalam riwayat Sahih al-Bukhari dan Sunan Abu
Dawud.
6. Makna
Filosofis Balang Jumrah
a. Simbol
Melawan Setan
Jumrah bukan sekadar melempar
batu, tetapi symbol melawan hawa nafsu, kesombongan, godaan dunia, dan tipu
daya setan. Menurut Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, lempar jumrah adalah
latihan spiritual untuk menghancurkan sifat buruk dalam diri manusia.
b. Simbol
Ketaatan Total
Nabi
Ibrahim tetap taat meskipun digoda, maka jumrah melambangkan keteguhan
iman,kepatuhan mutlak kepada Allah, kemenangan ruhani atas godaan.
c. Simbol Perjuangan Hidup
Menurut
ulama tasawuf Jumrah Ula melambangkan godaan dunia, kemudianJumrah Wustha melambangkan godaan manusia dan
Jumrah Aqabah melambangkan godaan ego dan setan.
7. Lokasi
Jumrah dalam Sejarah Mina
Mina
adalah sebuah lembah yang jaraknya sekitar 7 km dari Masjidil Haram, dalam
sejarah tempat mabit para jamaah haji dan lokasi penyembelihan kurban menuju
lokasi jumrah.
8. Perkembangan Bangunan Jumrah
Pada masa
awal islam bangunan jumrah awalnya hanya berupa tanda batu sederhana, kemudian
di masa Dinasti Abbasiyah mulai dibuat pilar kecil sebagai penanda, dilanjutkan
pada masa Utsmani bangunan jumrah diperluas karena jamaah semakin banyak.
Kemudian
di era modern Saudi bangunan untuk melempar jumrah di perluas yakni pada tahun
1975 dilakukan perluasan awal, tahun 1995 dilakukan pembangunan jembatan
jamarat kemudian pada tahun 2006 dilakukan rekonstruksi besar-besaran pasca
tragedi jamaah dan pada tahun 2010 di bangun Jamarat Bridge bertingkat modern. Dan
kini area jumrah menjadi kompleks raksasa bertingkat untuk keamanan jutaan
jamaah.
9. Tragedi dan Pelajaran
Sejarah
Dalam
sejarah modern, beberapa tragedi pernah terjadi akibat kepadatan jamaah saat
hendak melaksanakan lempar jumrah, yakni pada tahun 1990 M tragedy di terowongan
mina yang mengakibatkan lebih dari 1400 jamaah wafat. Pada tahun 2006 M terjadi
desak-desakan saat jumrah hingga ratusan jamaah haji meninggal.
Dari beberapa kejadian tersebut
kemudian pemerintah Arab Saudi memperluas jembatan jamarat, jalur evakuasi,
manajemen waktu lempar jumrah.
10. Hukum
Balang Jumrah
Hukum
balang (lempar) jumrah menurut mayoritas ulama adalah termasuk wajib haji, jika
ditinggalkan maka diwajibkan membayar DAM. (referensi kitab fikih : Al-Majmu, Bidayat
al-Mujtahid, Al-Mughni).
11. Ukuran
Batu Jumrah
Menurut
hadist : بِحَصَى الْخَذْفِ(Bi
ḥaṣā al-khadzf) “Dengan batu kecil seukuran ketapel.”
Sementara menurut riwayat Sahih
Muslim ukuran batu jumrah tidak besar dan tidak berlebihan karena merupakan simbolik
dan dilakukan dengan penuh adab.
12. Hikmah Spiritual Jumrah
Balang jumrah mengajarkan kita
untuk:
- Melawan keburukan dimulai
dari diri sendiri.
- Ketaatan sering diuji godaan.
- Ibadah haji bukan hanya
fisik, tetapi perjalanan ruhani.
Islam menghidupkan warisan
tauhid Nabi Ibrahim AS. Menurut andangan ahli dan pakar sejarah Muhammad Husayn
Haykal dalam bukunya Hayat Muhammad menjelaskan bahwa ritual jumrah adalah
kesinambungan sejarah Ibrahim yang dipertahankan Islam sebagai simbol
perjuangan manusia melawan kekuatan destruktif dalam jiwa. Sementara menurut Fazlur
Rahman menyebut ibadah haji termasuk jumrah sebagai “drama spiritual sejarah
tauhid manusia.”
Sebagai
penutup penulis mengambil kesimpulan bahwa balang Jumrah bukan sekadar ritual
melempar batu. Ia adalah simbol sejarah panjang sejak Nabi Ibrahim AS sekitar
2000 SM, disempurnakan Nabi Muhammad SAW pada Haji Wada’ tahun 10 Hijriah. Ia
mengandung makna perjuangan melawan setan, kemenangan iman, dan kesinambungan
ajaran tauhid dari Ibrahim hingga Islam. Dari Mina, umat Islam belajar bahwa
perjalanan menuju Allah selalu disertai ujian, dan setiap mukmin harus
“melempar” segala godaan yang menjauhkan dirinya dari ketaatan. (Kang Pendi | Ketua STIDKI NU Indramayu)
0 Komentar
Tulis Komentar Anda dengan sopan dan No Link Spam!